Translate

Total Tayangan Laman

Share It

28 Mei 2013

5. Perhatian


Oh my God! Dunia rasanya hampir kiamat. Bagaimana kalau mereka mengenaliku sebagai Ari, cowok nggak terkenal dari kelas XD?
Aku berjalan masuk sambil sedikit menunduk. Susah payah kupasang senyuman manis di bibirku.
Waktu seakan berhenti ketika kulihat semua cowok menghentikan kesibukannya dan menatapku sambil melongo. Sementara itu cewek-cewek melihatku dengan tatapan iri. Tiupan angin cukup kencang dari jendela yang terbuka sempat menggoyang poni rambutku. Dengan satu tangan kuusap rambutku untuk merapikannya. Di luar dugaan, itu membuat cowok-cowok semakin melongo dengan mulut terbuka.
Rani menunduk menahan tawa sementara Lusi dengan santainya memperkenalkanku ke kelas.
“Friends, hari ini kita dapat teman baru. Buat yang mau kenalan, silakan kenalan sendiri!” teriaknya. Kemudian Lusi mengajakku ke bangku deretan tengah.
Tidak butuh waktu lama, cewek-cewek tajir di kelas XB segera mengerumuniku. Sungguh, aku nggak ngerti apa yang mereka omongkan. Soal salon ini lah, soal mall, soal belanja. Aku diselamatkan dengan Rani yang berusaha mengusir mereka.
Keriuhan kemudian bergeser ke para cowok yang terus memandangiku seharian itu. Mata-mata nakal terus menatap ke arahku seharian itu. Bahkan, entah mengapa aku merasa ada yang mencoba memotretku secara diam-diam. Tidak sedikit yang mencoba mengamati paha dan dadaku. Awalnya aku risih, tapi lama kelamaan aku menikmati perhatian mereka.

Sejak kecil aku merupakan makhluk terbuang. Tidak ada yang memperhatikanku. Ayah dan ibuku sibuk bekerja. Di rumah aku hanya hidup dengan pembantu. Di sekolah aku menjadi anak yang tidak punya teman. Dan kini aku mengerti, bagaimana rasanya menjadi terkenal dan pusat perhatian.
Berbagai pujian mengalir kepadaku mulai dari cantik, cue, manis, malu-malu, sampai seksi. Bahkan, cowok yang katanya paling ganteng sekelas XB yaitu Ronald pun memujiku. Aku hanya tersenyum mendengarnya, coba kalau mereka tahu aku cowok?!. Perhatianku lebih tertuju pada Rani yang duduk sebangkuu denganku. Karena dia ingin membantuku mengenal dunia cewek, dia sengaja duduk bersamaku sementara Lusi pindah duduk di belakang kami.
Yang aku heran, sepanjang itu Rani yang biasanya kalem menjadi cerewet di depanku. Sering aku perhatikan dia menatapku sambil tersenyum. Namun aku tidak ambil pusing dan menikmati waktu-waktu bersama Rani. Karena itu, perhatian cowok-cowok yang membuatku jijik dengan tatapan matanya yang tertuju pada dada dan pahaku sama sekali tidak aku gubris. Namun aku belajar, cewek risih apabila cowok menatap bagian tertentu tubuhnya, terutama bagian yang sensitif dan terlarang.

1 komentar: