Translate

Total Tayangan Laman

Share It

18 Juni 2013

13. Berenang

Hari Minggu tiba. Rani dan Lusi sibuk menemani kedua orangtua mereka berbelanja. Sementara aku, aku sudah berencana untuk tidur seharian. Menjadi cewek setiap hari, meski aku senang dengan perhatian yang kudapat, namun lama-lama lelah juga. Apalagi harus menjaga rahasia.
Pagi itu aku bangun dengan tubuh terasa aneh. Badanku rasanya panas, padahal di luar cuaca biasa saja. Aku pun bangun dengan tubuh penuh keringat. Kuangkat tubuhku dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.
Ketika melintas kaca, aku tersentak. Gundukan di dadaku bertambah besar. Kini mirip toket seorang anak SMP yang baru masuk masa puber. Pantat dan pinggulku juga semakin membesar sementara perutku malah mengecil. Kulitku menjadi semakin terasa halus ketika disentuh. Wajahku pun tidak ada lagi guratan tegas sebagai seorang laki-laki. Aku terdiam di depan kaca. Perasaanku berkecamuk. Inikah akibat perawatan hormon yang diberikan dr Sinta?

Kututup pintu kamar mandiku lalu kulepas semua baju yang melekat. Kemudian aku berdiri di depan cermin. Burungku kini hanya sebesar jari telunjuk, itupun dia menggantung lemas tak berdaya. Ketika kupegang, burungku tak bereaksi apapun. Terlintas muncul pikiran iseng di kepalaku. Kulipat burungku ke belakang. Kuselipkan di antara pantatku lalu aku memakai celana dalam. Kulihat selangkanganku, datar, tidak ada yang menonjol sama sekali. Lalu kulihat cermin, seorang gadis yang hanya memakai celana dalam balas menatapku… Lama aku menatapi gadis cantik dalam cermin itu.

“Eri,” terdengar suara tante Mila dari belakangku. Refleks aku menutupi dadaku dan berbalik. Mukaku langsung memerah melihat Tante Mila hanya memakai baju renang merah dengan belahan dada rendah dan v-shape pinggul yang tinggi.
“Kamu ngapain?” tanya sambil menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Eng… Hanya melihat kondisi tubuhku aja koq,” ujarku sambil ku merasakan pipiku memanas karena malu.
Melihat tanganku yang terus menutupi dadaku, Tante Mila tersenyum.
“Tante pikir, kamu perlu sedikit enjoy dengan kamu yang sekarang. Nah, Tante punya ide. Kamu tunggu sebentar ya?” ujarnya sambil cepat-cepat keluar. Tidak sampai lima menit kemudian ia sudah kembali membawa sebuah bungkusan. Kemudian ia menarik keluar isinya, swimsuit one piece berwarna pink.
“Eri, coba kamu pakai deh. Habis itu kita berenang. Oke?” ujar Tante Mila sambil menyodorkannya kepadaku. Kuterima bikini itu dengan diam. Pikiranku berkecamuk.
“Kamu kenapa, Ri?” tanya Tante Mila.
“Masa aku pake baju renang cewek?” ucapku pelan.
Tante Mila berdiri di hadapanku. Perlahan dia memegang tanganku sehingga toketku terlihat. Aku menunduk malu.
“Lihat dadamu. Kamu sudah punya toket yang indah kaya gitu. Kalau kamu renang dengan telanjang dada, bisa bahaya. Apalagi nanti di sekolah ada pelajaran renang. Nah, makanya hari ini Tante ajak kamu berenang, pake baju renang. Biar kamu terbiasa. Oke?” ujarnya.
“Tapi…” ujarku pelan yang langsung dipotong Tante Mila.
“Sudahlah, kamu ikuti aja apa kata Tante. Ini demi kebaikan kamu juga,” ujarnya sambil melepas celana dalamku yang berwarna biru itu. Aku menahannya.
“Tante, jangan…” protesku tertahan.
“Kenapa harus malu? Anggap saja sekarang kita sama-sama perempuan,” katanya sambil tersenyum. Kemudian dia menyentakkan tanganku dan melepas celana dalamku. Aku malu karena burungku masih aku lipat ke belakang.
Tante Mila tersenyum ketika melihat burungku yang terkulai lemas. “Nggak apa-apa, Eri. Jangan malu,” katanya.
Setelah melepas celana dalamku, tante menyuruhku memasukkan kedua kakiku dalam dua lubang sempit dalam swimsuit itu. Namun sebelum dia mengangkatnya untuk memasukkannya ke tubuhku, dia melipat burungku ke belakang seperti tadi. Selesai memakai swimsuit, tante menuntunku ke depan cermin.

Pipiku semakin memerah melihat gadis cantik dalam cermin itu memakai swimsuit warna pink. Tidak ada gundukan kecil di selangkanganku. Kini aku tak ubahnya cewek tulen yang sedang memakai baju renang seksi. Belahan dadaku cukup terlihat sementara pinggulku juga terlihat karena belahan di bawah sangat tinggi. Pinggangku terlihat semakin kecil sementara pinggul dan pantatku membesar.
“Nah, sadari betapa cantik dan seksinya kamu,” ucap tante Mila. Kemudian dia mengambil sunblock lalu mengoleskannya ke tubuhku.
Tidak lama kemudian Tante Mila menarikku menuju kolam renang. Mulanya aku malu, namun lama-lama aku terbiasa berenang dengan baju renang cewek. Kain ketat yang membalut tubuhku terasa menyenangkan ketika dipakai meluncur di air.
Hari Mingguku yang kurencanakan untuk bermalas-malasan, kini malah diisi dengan hal yang menyenangkan.

Namun ketika aku sedang bersiap keluar dari air, datanglah Tante Leni bersama seorang pria berwajah bule yang  membawa kamera bertele panjang. Semula aku tidak terlalu mempedulikan mereka karena Tante Leni dan Tante Mila memang sudah biasa mengajak temannya ke rumah. Namun setelah aku duduk di tepi kolam dan bule itu memotretku, aku marah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar